Cari Blog Ini

SELAMAT DATANG SOBAT...

Salam...

Selama ini, statistika sering diidentikkan dengan bidang yang lumayan sulit. Kesulitan dalam mempelajari statistika dikarenakan bidang ini terkait langsung dengan matematika. Bidang ilmu yang ketika mendengar namanya saja kebanyakan kita sudah kebakaran jenggot.. hehehe..

Ditengah situasi seperti itulah blog ini hadir. blog ini berusaha untuk menjembatani orang-orang yang mencari informasi yang berhubungan dengan statistik. Untuk lebih mempermudah analisis statistik, maka blog inipun memberikan panduan bagaimana melakukan analisis dengan menggunakan software SPSS.

Untuk lebih membuat blog ini lebih bermanfaat, sumbang saran dari pembaca sekalian sangat penulis harapkan dan kita akan sama-sama belajar... Ayo semangat!! Buat Indonesia melek dengan statistika.

Wassalam
Djunaidi L, Manado


Senin, 31 Maret 2008

Kelemahan T-test

Untuk membuat perbandingan rata-rata antara dua variable biasanya digunakan t-test. Misalnya seorang guru bermaksud melihat pengaruh metode pengajaran dengan diskusi terhadap prestasi siswa, maka guru tersebut bisa menggunakan t-test. Akan tetapi jika guru tersebut ingin melihat pengaruh metode mengajar yang berbeda seperti diskusi, tanya jawab dan ceramah dan mencatat terhadap prestasi belajar siswa apakah bisa menggunakan teknik t-test?



Untuk menggunakan t-test, maka guru tersebut perlu membuat beberapa macam hipotesis yaitu:

µ1 = µ2
µ1 = µ3
µ1 = µ4
µ2 = µ3
µ2 = µ4
µ3 = µ4

Dengan demikian guru tersebut akan melakukan enam kali pengujian. Dengan melakukan enam kali pengujian, maka kesalahan tipe I yang dibuat bukan lagi sebesar alpha. Misalnya jika tingkat kepercayaan (α) yang digunakan sebesar 0,05 maka kesalahan tipe I yang dibuat dengan menggunakan t-test di atas adalah:

1 – (1 - α)c

Dimana α adalah tingkat kepercayaan dan c adalah banyaknya pengujian. Dengan demikian, jika seorang guru ingin membuat pengujian dengan menggunakan t-test, maka dia akan membuat kesalahan sebesar

1 – (1 - 0,05)6 = 0,26

Tingkat kepercayaan yang diharapkan adalah 0,05, akan tetapi ternyata dengan membuat perbandingan dengan t-test, kesalahan tipe I tidak seperti yang diharapkan. Untuk mengatasinya maka para ahli statistik membuat model analisis yang berbeda yaitu analisis varian atau disingkat ANAVA. Dengan demikian sekiranya seorang peneliti bermaksud untuk membuat perbandingan lebih dari dua variable sebagaimana kasus di atas, maka dia bisa menggunakan teknik analisis varian.

Untuk menggunakan analisis varian, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu yaitu:

1. Pengambilan sampel dilakukan secara acak (random) dan saling bebas. Hal ini merupakan teknik untuk memenuhi hipotesis nol dimana dinyatakan adanya kesamaan mean dari tiap populasi.
2. Variable dependen minimal berskala interval. Jika variable independen berskala nominal atau ordinal maka nilai-nilai yang digunakan dalam analisis varian tidak akan memiliki makna.
3. Populasi dimana dilakukan pengambilan sampel harus berdistribusi normal. Untuk menormalkan data maka teknik yang paling mudah dilakukan adalah dengan memperbanyak sampel. Jumlah sampel minimal yang dianggap telah memenuhi syarat distribusi normal adalah 30.
4. Populasi memiliki varians yang sama. Untuk mengecek apakah populasi memiliki varians yang sama maka dapat dilakukan analisis homogenitas varian. Analisis ini telah dibahas pada pokok bahasan yang dahulu.

Dalam analisis varian, ada dua jenis variable yaitu variable terikat dan variable bebas. Variable terikat biasa disebut juga variable dependen dan variable bebas biasa di sebut dengan variable independen. Dalam kasus di atas misalnya, yang termasuk variable bebas adalah metode mengajar dengan menggunakan diskusi, Tanya jawab, ceramah dan mencatat. Adapun variable independen adalah prestasi belajar.

Untuk menguji perbedaan rata-rata lebih dari dua variable – misalnya model pembelajaran di atas- maka hipotesis yang bisa diajukan adalah:

H0: µ1 = µ2 = µ3 = µ4 = µk
H1: salah satu µ tidak sama

Bunyi hipotesis alternatif di atas tidak menyebutkan secara jelas manakah µ yang memiliki perbedaan di antara µ yang diuji. Untuk memecahkan masalah ini maka kita kemudian melakukan analisis lanjutan sekiranya hipotesis nol yang diajukan ditolak. Analisis lanjutan biasanya dikenal dengan post hoc test.

Share

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Asalamualaiakum.Wr.Wb.
Pak jika saya punya data uji seperti berikut:

Ada 2 kelas A dan B. Kelas A dilakukan pengajaran B. Inggris dengan metode konvensional (guru memberi penjelasan dipapan tulis kemudian memberi pertayaan2 sedangkan kelas B. Dilakukan pengajaran B. Inggris dengan metode modern (guru memberi cerpen dan kemudian memberi pertanyaan2). Saya ingin menguji efektifitas ke dua metode tersebut berdasarkan hasil pre dan post test dari ke dua kelas tersebut yang masing2 berjumlah 30 siswa. Apa bisa kita cukup menggunakan t-test? atau harus pakai ANOVA?...mohon penjelasannya ya..bisa via email saya: arifudin_11@yahoo.com atau via blog ini.....
Mkasih

djo3n mengatakan...

cukup menggunakan t test saja

Anonim mengatakan...

kalau ada dua kelompok, jumlah sampelnya beda, klo dibikin tabel jadi tabel 2 kali 3, skalanya nominal,ujinya pake uji apa?

Syarat2 uji T dan uji chi square itu apa? apakah klo jumlah sampel kurang dari 30, ujinya pake uji t? makasih banyak.... Barokallaah fiikum...

Anonim mengatakan...

Assalau'alaikum wr wb, kalau menguji hasil belajar siswa dalam memperlajari Array Satu Dimensi antara yang menggunakan aplikasi Pascal dengan Delphi, kira-kira itu bisa tidak? apakah itu memenuhi syarat untuk dibandingkan? kemudian itu termasuk data nominal atau buka? terima kasih.
Wassalamu alaikum wr wb

Rosnida Zainab mengatakan...

Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat saya mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan ke jakarta untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk Drs Tauhid SH Msi No Hp 0853-1144-2258. siapa tau beliau masih bisa membantu anda, Wassalamu Alaikum Wr Wr ..